Tanggal Hari Ini : 23 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Fajar Handika,Usaha Outdoor Foodcourt Foodfezt
Selasa, 09 Oktober 2012 11:36 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Kesuksesan sebuah usaha ditentukan seberapa besar pebisnis dapat belajar dan beradaptasi dengan berbagai perubahan, serta seberapa besar kemampuannya untuk berinovasi. Perjalanan usaha Outdoor Foodcourt Foodfezt yang didirikan Fajar akhir tahun 2007 lalu merupakan rangkaian perjalanan bisnis di bidang manajemen restoran setelah sebelumnya ia malang melintang di berbagai bisnis lainnya, mulai dari mengelola web online penjualan produk kerajinan, membuka resto/cafe sendiri, hingga mengelola bisnis angkringan kaki lima.

Fajar mengaku, hobbynya yang suka makan membuatnya banyak berkenalan dengan pemilik resto atau warung makan. Pada saat jalan-jalan bersama temannya, kadang mengalami kesulitan kalau mau mampir ke sebuah restoran, ada yang mau makan nasi goreng, ada yang suka sate, ada yang mau makan gado-gado, dan menu lainnya. Jika mampir ke restoran yang memiliki sedikit menu, keinginan temannya untuk makan dengan menu yang lain tidak kesampaian.

Berawal dari itulah Fajar memiliki inisiatif untuk membuka foodcourt yang dapat menyediakan menu beraneka ragam hanya disatu tempat. Sebelum mendirikan foodcourt Fajar melakukan survey kecil-kecilan terhadap beberapa orang yang suka wisata kuliner di Yogyakarta. Berdasarkan hasil survey tersebut ia kemudian mera-ting menu-menu yang paling banyak disukai orang, misalnya ada bakso, sate, nasi goreng, dll. Setelah dirating berdasarkan menu makanan, Fajar kemudian melakukan survey brand gerai makanan yang paling banyak dikunjungi orang. Setelah diketahui brand-brand dengan peminat terbanyak, ia kemudian mengajak gerai brand-brand yang kuat tersebut untuk mengisi space di foodcourtnya.

Pada awal berdiri, hanya beberapa brand gerai makanan saja yang mau mengisi foodcourt Foodfezt miliknya. Namun seiring dengan perkembangan jumlah pelanggan yang kian banyak, serta promosi yang gencar, akhirnya banyak brand-brand gerai makanan terkenal lainnya yang mengisi foodcourt Foodferzt. Dalam menerima brand yang masuk di foodcourt Foodfezt Fajar memberlakukan syarat ketat, diantaranya tidak ada menu yang sama, atau mirip antara brand yang satu dengan lainnya. Syarat tersebut diberlakukan sangat ketat Kini di foodcourt Foodfezt telah memiliki menu tak kurang 100 macam menu, dengan 11 dapur dan 1 bar dengan luas foodcourt mencapai 1400 m2.

Dalam jumlah pelanggan yang masih terbatas, tidak ada kesulitan untuk melayaninya, namun ketika pelanggan ramai hingga mencapai ratusan pelanggan yang datang bersamaan, kesulitan mulai muncul. Kesulitan tersebut muncul karena jumlah dapurnya yang ba-nyak, area layanannya juga luas, termasuk yang berada di lantai 2, ada yang pesan sate dapurnya di ujung selatan, ada yang pesan mie dapurnya di ujung timur, sementara pelangganya berada di tengah-tengah. Kesulitan-kesulitan tersebut membuat Fajar berfikir untuk mencari jalan keluar yang sistematis dan efisien, sehingga ia berfikir mengapa tidak menggunakan sarana Personal Digital Assistant (PDA) untuk melayani pelanggannya.

Waitress yang melayani pelanggan tidak lagi membawa kertas dan nota pesanan tetapi cukup membawa Personal Digital Assistant (PDA), yaitu komputer palmtop seukuran kalkulator saku tanpa keyboard, dengan layar sensitif, yang informasinya langsung terhubung secara teintegrasi antara waitress, kitchen, cashier hingga backoffice secara realtime. Semua pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Fajar untuk menyelesaikan persoalan pelayanan dengan manajemen yang efisien dan efektif, serta modern. Menu-menu yang tersedia pun dapat dipesan de-ngan mengakses melalui internet. Dengan pemesanan melalaui PDA, pesanan pelanggan langsung terhubung ke s ke kichen secara akurat dan terfile.

Dengan cara ini informasi lebih cepat diterima oleh kichen sehingga pesanan pelanggan lebih cepat disajikan. Dalam konsep manajemen foodcourt semakin cepat menu disajikan menandakan manajemen pengelolaan foodcourt tersebut cukup baik, apalagi untuk menghubungkan 11 dapur dan 1 bar di lokasi yang luas, hal-hal kecil seperti salah mencatat menu se-ringkali terjadi. Di Indonesia, konsep menggunakan piranti teknologi informasi secara terintegrasi untuk pengelolaan foodcourt masih belum terlalu familiar karena biasanya dapurnya hanya satu, tetapi di beberapa foodcourt di Singapura dan di kawasan negara maju lainnya, foodcourt yang memiliki dapur banyak hal ini lazim dilakukan.

Kini foodcourt Foodfezt setidaknya dikunjungi 300 hingga 500 pelanggan se-tiap hari, dengan omzet rata-rata mencapai Rp14-20juta per hari. Tahun 2010 lalu omzet foodcourt Foodferzt mencapai Rp4,3 miliar dengan keuntungan bersih mencapai Rp654 juta. Meski baru memiliki satu outlet, tetapi Fajar sudah mempekerjakan 49 orang. Mahasiswa Magister Management Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini akan mengembangkan konsep bisnis serupa di Malang, Bandung, Jakarta dan lokasi lain yang strategis, karena prospeknya sangat menjanjikan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari