Tanggal Hari Ini : 23 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Berbisnis adalah Keberanian Menangkap Peluang
Jumat, 05 Oktober 2012 11:46 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Berbisnis adalah keberanian menangkap peluang. Peluang yang datang kadang tidak anda sadari, tetapi peluang datang kapan saja, setiap waktu. Keberanian mencoba dan memulai adalah langkah pertama untuk mendekatkan peluang yang ada dengan kenyataan menuju sukses dalam berbisnis. DR H Masyhari SE MM, adalah tipikal pebisnis yang rindu datangnya peluang. Ia mengaku memikirkan risiko bisnis belakangan agar keberanian menangkap peluang tidak kendur justru saat peluang itu ada di depan mata. Bisnis jamu misalnya, merupakan peluang yang sangat besar karena amsyarakat Indonesia sudah sangat mengenal jamu, demikian juga dengan bahan-bahan baku yang ada di Indonesia, dan secara empiris jamu telah terbukti digunakan oleh masyarakat Indonesia dan lampu menyehatkan.

AAM Kost yang menyediakan kost harian, mingguan dan bulanan yang semula hanyalah investasi property dengan membeli rumah-rumah ukuran kecil di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan, sebanyak puluhan rumah, yang kemudian direnovasi dan dijadikan rumah kost kini merupakan pasif income yang sangat menggiurkan. Terlebih nilai investasi
rumah kini terus meningkat nilainya. Di bisnis lainnya, Masyhari menangkap peluang bisnis tour & travel. Peluang itupun, menurutnya datang tanpa sengaja.

Suatu hari, ia melancong ke beberapa negara bersama keluarga besarnya. Saat membawa berlibur sembilan anggota keluarganya ke Singapore, Malaysia dan Hongkong itulah ia ingin jalan bareng sama keluarga. Ternyata perjalanan itu terasa tidak menyenangkan, karena susah sekali  berwisata secara rombongan di tempat-tempat tersebut, mencari taksi susah, menyewa kamar hotel juga susah, sehingga meskipun tujuannya ingin senang-senang dan ingin bahagia bersama keluarga besar dengan anggaran yang sangat mencukupi, namun perjalanannya menjadi tidak menyenangkan.

Ia menyadari, mungkin bukan ia saja yang mengalami hal serupa, tetapi juga banyak keluarga-keluarga lain mengalami hal yang sama jika perjalanan wisatannya tidak diorganisasikan dengan baik. “Pengalaman itu menyadarkannya saya akan peran biro perjalanan (travel biro) dalam membantu kegiatan wisata keluarganya. Dengan jasa biro perjalanan, hal pokok-pokok, yang pentingpenting sudah ada yang menangani. Saya dan keluarga tinggal menikmati acaranya saja.

Atraksi-atraksi dan obyekwisata yang tersedia, sesuai lokasinya. Budjed juga jadi lebih ringan, efisien,” jelas pendiri Harfatour yang bernaung di bawah PT Harfa Hijau Wisata ini. Seringnya ikut travel biro dalam berlibur, mengunjungi kota-kota indah di Nusantara dan kota-kota menarik di luar negeri, mencetuskan ide membangun usaha travel biro. Dan itulah yang dikelolanya sekarang. Bisnis travel biro yang ia rintis kini melejit “dan berjalan lancar. Bahkan promosi besar-besaran yang dilakukan diberbagai media nasional merupakan kiatnya untuk menangkap peluang bisnis travel biro yang sangat besar peluangnya. Pengalamannya mengelola bisnis travel biro ini kemudian dikembangkan lebih luas lagi dengan mengelola usaha manajemen perjalanan ibadah Umroh dan Haji Plus.

Bisnis inipun, menurut Masyhari berjalan lancar, karena menurutnya mengantarkan para Tamu Allah ke Rumah-Nya juga bernilai ibadah. Bisnis travel bironya juga mengembangkan paket travel China Moslem Tour, yang mengajak para wisatawan Indonesia untuk mengunjungi berbagai daerah dan sejarah Islam di China. Bahkan ia juga mengembangkan paket tour Singapore Muslem Tour, Malaysia Moslem Tour, Korea Moselem Tour, bahkan Australia Moslem Tour, Amerika Moslem Tour dan Japan Moslem Tour.

Tantangan Selalu Ada Dalam menjalankan bisnis, Masyhari selalu berpedoman kepada tiga hal. Pertama, menangkap potensi dan peluangnya, bersungguh-sungguh dalam menjalani bisnis, dan ketiga berserah diri kepada yang pemberi rezeki. Dalam suatu kesempatan meeting bersama stafnya, Masyhari pernah diprotes oleh karyawannya karena mengembangkan moslem tour ke beberapa negara. Stafnya beranggapan wisata ke negara-negara muslim masih sedikit peminatnya dibandingkan dengan paket reguler yang lazim banyak diselenggarakan
oleh travel biro lainnya seperti ke Hong Kong dan Bangkok. “Saat itu saya bilang Bismillah, kita akan terus mengembangkan moslem tour dan Insya Allah ada rezekinya di situ,” ujarnya.

Keyakinan tersebut ternyata ada hasilnya. Melalui strategi promosi yang tepat, program moslem tour yang dikembangkan terus berkembang. Bahkan ia memberlakukan paket wisata moslem tour ke beberapa negara ini layaknya membimbing para peserta seperti mengikuti paket wisata rohani seperti umroh, karena ia juga memberikan pengetahuan dan siraman rohani sepanjang perjalanan, dari awal berangkat hingga pulang ke rumah masing- masing. Alhasil sepulang mengikuti moslem tour peserta bukan saja senang dapat berkunjung ke loaksi-lokasi wisata yang menarik tetapi juga semakin meningkat keimanannya kepada Allah SWT.

Kini, ujar ayah dari 5 anak ini, dalam mengembangkan usaha ia tak semata-mata mencari rezeki sebanyak- banyaknya, namun bagaimana mencari rezeki yang diridhoi oleh Allah, berkah, dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat. Meski tidak ia katakan, namun implementasi kata-katanya tercermin dari apa yang ia lakukan. Masyhari aktif berdakwah, sebagai ustad, ia juga menyisihkan waktunya untuk mengajar kewirausahaan di kampus Universitas Empu Tantular, Jakarta, dan disela-sela waktunya ia juga aktif sebagai pengurus di organisasi Gabungan Pengusaha Jamu, dan aktif diberbagai sosial kemasyarakatan.

Banyak pengusaha sukses yang dulunya adalah orang miskin mengungkit-ungkit masa lalunya, dendam, bahkan mengingat-ingat kejadian yang pernah dialaminya ketika ia miskin, dan membusungkan dadanya ketika jaya dan kaya, namun bagi Masyhari masa lalu adalah pelajaran untuk menyongsong sukses yang lebih gemilang. Sosok Masyhari yang sederhana, kata-katanya yang santun kepada siapapun dan jauh dari kesombongan menandakan ia tetap tawadhu, dan rendah hati. Dan begitulah seharusnya seorang pebisnis sukses bersikap.

Sejak SMA Sudah Menjadi Produsen Jamu Membayangkan seorang Masyhari muda, ketika masih di usia sekolah SMA, tiga puluhan tahun yang lalu, ia adalah sosok seorang anak muda yang kreatif, memiliki ikhtiar yang luas, berkemauan belajar yang tinggi, sembari berupaya memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri secara mandiri. Sejak kelas 1 SMA Masyhari sudah mampu mencari uang sendiri, bukan hanya untuk sekedar hidup, tetapi terus ia kembangkan sambil menyelesaikan sekolahnya. Saat kelas 2 SMA misalnya, Mashary sudah mampu menjadi sales produk elektronik, dan tidak tanggung-tanggung, dalam sehari ia mampu menjual produk elektronik sebesar Rp70ribu.

Pada saat itu jumlah sebesar itu termasuk cukup besar, karena harga sepeda motor saja masih Rp150ribu. Penghasilannya sebagai sales produk-produk elektronik membuat Masyhari berkecukupan secara materi, termasuk untuk membayar sekolahnya sendiri, membayar kontrak rumah, serta membeli sepeda motor untuk menunjang aktifitasnya sehari-hari. Namun Masyhari memiliki cita-cita, ingin memiliki produk sendiri, yang dibuat sendiri, dan dengan kemampuannya sebagai sales yang telah dijalaninya selama ini ia berharap mampu menjual produknya dengan baik. Suatu hari, saat istirahat sekolah, ia menemukan sebuah buku kusam berisi resep-resep pembuatan jamu tradisional. Melalui buku resep pembuatan jamu itulah Masyhari, dengan modal Rp16 ribu mencoba membuat jamu dari bahan dedaunan dan akar-akaran yang dibeli di pasar.

Jamu hasil racikannya yang dibuat berdasarkan resep yang diperolehnya dari buku tersebut kemudian diberikan resep cara pembuatan dan pemakaiannya dengan selembar kertas foto copy. “Jamu tersebut saya tawarkan ke para tukang becak yang tinggal tidak jauh dari rumah saya. Menurut pengakuan para tukang becak (saat itu Jakarta masih ada becak) jamu yang diminum membuat badan lebih segar dan vitalitasnya meningkat,” ujarnya. Ia berfikir, jamu yang dibuat dan dikemas sederhana dengan harga Rp5000 per bungkus tersebut dapat dijual ke apotik-apotik, namun nyatanya tidak ada apotik yang mau menerima produknya untuk membantu menjualkan, bahkan banyak apotik yang menolaknya.

Strategi Berbisnis Bagaimana agar produk jamunya dapat dijual di apotik agar masyarakat yang memerlukan mudah mencarinya jika diperlukan. Agar produk jamunya dapat dijual di apotik bukan langkah yang mudah. Suatu hari banyak pelanggannya yang datang kepadanya untuk membeli jamu buatannya. Namun ia meminta para pelanggannya datang saja ke apotik-apotik barangkali ada jamu buatannya yang dijual di apotik-apotik tersebut.
Tentu saja pemilik dan pengelola apotik kebingunan mengapa banyak orang yang mencari jamu tersebut di apotik. Sebagian ada yang teringat pernah ada anak-anak seusia SMA yang menawarkan jamu untuk dijualkan produknya di apotik.

Saat Masyhari mendatangi apotik-apotik kembali untuk menawarkan produknya agar dibantu dijualkan di apotik-apotik tersebut, kali ini mudah, dan hampir semua apotik mau menerimanya. Pada bulan-bulan pertama produk jamunya dijual melalui jaringan apotik-apotik, penjualannya meningkat. Bahkan pengelola apotik sempat memerahinya karena terlambat mengirim jamu ke apotik-apotik. Di sinilah, Masyhari yang saat itu masih kelas 3 SMA belajar mengenai kontinuitas produk. Ketika produk sudah mulai banyak dicari orang, ketika jaringan sudah dibentuk maka kontinuitas produk harus dijaga agar masyarakat yang mencari produk tersebut tidak kecewa jika tidak menemukannya. Belakangan, setelah beberapa bulan berjalan menitipkan produknya melalui apotik-apotik, saat itu penjualan produk jamunya menurun.

Para pemilik dan pengelola apotik komplain dan memarahinya. “Saya bingung, produk jamu laku dan kehabisan dimarahi (oleh pengelola apotik), barang tidak laku juga dimarahi. Melalui para pemilik apotik saya belajar tentang arti pentingnya promosi,” ujarnya. Ditangkap Petugas POM Jamu yang Masyhari produksi laku keras di apotik-apotik. Meskipun hanya dengan bungkus plastik sederhana, dengan petunjuk pemakaian dan resep dari kertas foto copy. Ia juga sudah mempekerjakan beberapa orang tenaga kerja yang membantu menjalankan usahanya. Boleh dibilang, meski baru kelas 3 SMA, namun Masyhari sudah memiliki beberapa karyawan yang bekerja kepadanya, meski bekerja mempersiapkan produk jamu dilakukan di ruang sempit rumah kontrakannya.

Suatu saat petugas POM mendatangi sebuah apotik dan menanyakan izin-izinya usahanya. Ia dipanggil untuk datang ke apotik tersebut. Betapa kagetnya petugas POM tersebut karena yang datang adalah seorang anak yang masih berseragam SMA. “Saat itu saya masih memakai seragam sekolah, saya ditanya ini usaha siapa. Saya jawab usaha saya sendiri. Mana izin-izinnya, saya jawab saya belum tahu kalau usaha ini harus ada izinnya,” ujarnya. Dari peristiwa tersebut Masyhari baru menyadari perlunya kelengkapan administrasi, termasuk izin-izin yang diperlukan untuk memproduksi usaha jamu.

Meski saat itu banyak kendala dalam menjalankan bisnis jamunya, namun Masyhari yakin bahwa industri jamu memiliki prospek yang sangat baik di Indonesia, karena selain memiliki bahan baku yang sudah teruji secara khasiat dan manfaatnya, seperti temulawak, jahe, kencur, dll, yang sejak turun temurun dan nenek moyang sudah sangat manjur digunakan oleh masyarakat. Jamu Djiwo Setelah banyak belajar, dan tersandung berkali-kali, kini usahanya jamunya melejit, lewat berbagai produk yang sangat banyak dikenal oleh masyarakat dibawah produk PT Hari Fatma dan PT Dila Hijau Farma, salah satu brand yang cukup dikenal masyarakat adalah jamu Djiwo, Jamu Khusus Pria JKP, serta Tsu Zhi. Produk-produk jamu tersebut telah tersedia di berbagai apotik di seluruh Indonesia dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua.

Bahkan kini, ia tengah menjajaki ekspor ke Malaysia. Menurut Masyhari, ia selalu menjaga kepercayaan konsumen menjaga kualitas produk jamu hasil produknya. Bagi seorang pebisnis kepercayaan adalah suatu keniscayaan, tanpa kepercayaan bisnis tidak akan berkembang dengan baik. Dengan adanya kepercayaan menjadikan urusan bisnis jadi mudah kalau banyak orang yang percaya. Produk-produk jamu yang dihasilkan oleh Masyhari telah mendapat sertifikat Badan POM, dan kualitasnya tidak kalah dari pada produk impor. Kini, buat apa beli produk impor kalau yang lokal saja sudah bagus kualitasnya. Terbukti penjualan produk jamu hasil ramuannya semakin meningkat dari hari ke hari.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari