Tanggal Hari Ini : 15 Oct 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Pasar Kramat Jati Denyut Kehidupan yang Tak Pernah Berhenti
Selasa, 15 Mei 2012 10:10 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Pasar Kramat Jati, terasa hidup setiap hari. Penjual sayur, buah-buahan, juga aneka kebutuhan rumah tangga ada di dalamnya. Tak kurang, para penjual ikan juga ada di kawasan ini.

Pasar yang berdiri  tahun 1971 di era Gubernur DKI  Jakarta Ali Sadikin ini dibangun di atas lahan seluas 14,7 hektar dengan luas bangunan 83.605 meter persegi. Pasar ini terbagi dalam sepuluh blok dengan 4.428 tempat usaha. Di sini terdapat sekitar 1800 pedagang dari berbagai daerah penjuru Jakarta yang mengadu nasib dan berjualan berbagai jenis produk, dari pakaian, alat rumah tangga, aneka kebutuhan keluarga, hingga buah dan sayuran.

Pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan maupun swalayan di Jakarta telah menggeser fungsi Pasar Kramat Jati, dan kini hanya dikenang sebagai pasar dan pusat perbelanjaan tradisional yang kian terpuruk eksistensinya.

Tulisan ini mencoba untuk menggugah kembali eksistensi pasar yang terletak di pinggiran Timur Jakarta ini agar memperoleh perhatian, dukungan dan serta modernisasi karena di dalamnya hidup ribuan pengusaha mikro dan kecil yang nyata-nyata mampu menyokong keberadaan republik ini, serta tetap melestarikan sebuah komunitas kehidupan ala pasar tradisional dengan harga yang sangat kompetitif dan terdapat ruang tawar menawar harga bagi para pembeli dan pedangang. Tulisan ini juga mencoba membangkitkan semangat entrepreneurship lebih tinggi bagi para pengusaha mikro dan kecil yang masih terbelenggu oleh masalah klasik yang selama ini membelitnya, modal.

Buka dan terus hidup dari jam 02.00 dini hari sampai 18.00 Wib, pasar terus menggeliat tak pernah mati. Pasar biasanya ramai saat pagi hari dan siang hari, tetapi menjelang petang dan malam hari,  pasar ini ramai dengan pedagang ikan segar. Berbagai ikan segar terdapat di sini, mulai ikan air tawar hingga ikan air laut. Untuk mendapatkan harga yang kompetitif, pembeli harus lihai dan pandai-pandai tawar menawar dengan pedagang.

 

Kami Butuh Uang

Berbeda dengan pasar modern yang kepemilikan usaha hanya di tangan segelintir orang, di pasar tradisional distribusi usaha tersebar sangat luas dan dimiliki oleh pengusaha gurem, mikro dan kecil.  Kadang masalah modal menjadi kendala yang paling nyata, karena uang berputar sangat cepat, dan sedikit saja volume bisnis bertambah maka kebutuhan modal adalah hal penting yang sangat diperlukan.

Menyiasati keperluan modal yang mendesak, para pedagang di Pasar Kramat Jati membentuk  Koperasi Pasar (KOPPAS) KPPKJ, yaitu singkatan dari  Koperasi Pedagang Kramat Jati. Koperasi ini sudah dibentuk sejak tahun 1977, yang beranggotakan seluruh pedangang Pasar Kramat Jati.

Menurut Sekretaris KOPPAS,  Wahyuni, perkembangan koperasi KPPKJ jatuh bangun, layaknya jatuh bangun para pengusaha yang tergabung di dalamnya. “Bila pengurusnya bagus, maka koperasi maju, tetapi sebaliknya, bila pengurusnya tidak bagus, maka koperasi berjalan kacau balau,”jelasnya.  

Namun, lanjut Wahyuni,  perkembangan KOPPAS KPPKJ kini  mulai membaik. Saat ini anggotanya mencapai 270 orang. Mereka yang menjadi anggota harus pedagang Pasar Kramat Jati.  Tujuan dibentuknya koperasi karena banyak para pedagang yang membutuhkan dana segar mendadak.  Karena itu, koperasi pasar ini menyediakan layanan pinjaman cepat untuk para anggotanya. Besarnya modal yang dipinjamkan berkisar mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta, dengan skim pembayaran dilakukan secara mencicil.

Menurut Yuni, jika pedagang meminjam Rp500 ribu, maka yang diterima adalah sebesar Rp475 ribu, karena biaya administrasinya  sebesar Rp 25 ribu untuk koperasi. Sedangkan cicilannya dilakukan dengan cara membayar setiap hari sebesar Rp13 ribu selama 40 hari.

Syarat meminjam dana tersebut selain harus benar-benar pedangang, memliki lapak atau kios di Pasar Kramat Jati, mereka juga harus menyerahkan photo copy KTP.

“Banyak pengusaha yang membutuhkan uang untuk mengembangkan usahanya. Mereka maunya cepat, mudah dan tidak bertele-tele. Toh mereka juga memiliki usaha di sini. Kami butuh uang, ” ujar Yuni.

Seiring dengan berjalannya waktu,  banyak perbankan atau jasa keuangan yang ingin melakukan kerjasama dengannya, dengan bunga rata-rata 18 persen per tahun. Karena sedikit merepotkan, menurut Yuni hanya pedagang-pedagang tertentu  saja yang memenuhi syarat  untuk meminjam dana tersebut.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari