Tanggal Hari Ini : 20 Jan 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Serbuan Kuliner Dari Serambi Mekah
Rabu, 09 Mei 2012 09:54 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Meski masyarakat Jakarta masih awam dengan masakan Aceh, Ratna Dwi Kora (46) optimis memasarkan makanan khas Serambi Mekah ini. Ia mengikuti pameran franchise di Jakarta beberapa waktu lalu dengan memasarkan peluang bisnis makanan yang spesifik ini, yaitu Mie Aceh.

Ia optimis Mie Aceh dapat berkembang dengan baik di Jakarta dan kota besar lainnya, dan merupakan bisnis prospektif karena selain pesaingnya belum banyak, Mie Aceh juga memiliki cita rasa yang khas.

Berbekal bumbu yang diberikan oleh kedua orang tuanya, asal Sigli, Aceh, Ratna membuka  rumah makan masakan Aceh, khususnya Mie Aceh  di Kawasan Jalan Warung Buncit,  Jakarta Selatan. Salah satu keunikan Mie Aceh menurut  Ratna adalah adanya bumbu-bumbu yang terbuat dari rempah-rempah asli, serta mie yang dibuat sendiri dengan bahan khusus.

Mie Aceh Seulawah yang didirikannyapun laris manis. Ada beberapa jenis menu yang disajikan, tetapi yang khas adalah menu Mie Kepiting, yang disajikan dengan kepiting utuh dan ini termasuk salahsatu yang paling diminati pelanggan.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya penggemar Mie Aceh Seulawah akhirnya ibu dari Mutiah, Fatinah, Syifah dan Nurhasanah ini lantas memberanikan diri membuka cabang di Kawasan Jakarta yang lain, diantaranya di Kawasan Kebun Sirih, Benhill dan Cijantung.  Ia membuka cabang dengan pertimbangan banyak pelanggannya yang rela jauh-jauh datang ke Kawasan Jalan Buncit Raya di Jakarta Selatan hanya untuk menyantap Mie Aceh kesukaannya.

Benar saja, dengan membuka cabang bisnis ini, usahanya kian berkembang, pelanggannya semakin banyak, dan semakin dikenal bukan hanya masyarakat Jakarta tetapi sampai keluar daerah.

Tak sedikit pelanggan Ratna yang ingin mengajak bekerjasama. Karena belum mengerti sistemnya dan bentuk kerjasamanya akhirnya permintaan tersebut ia  tolak. Namun permintaan tersebut terus mengalir setiap harinya. Ia berfikir mengapa peluang bagus tersebut tidak dipertimbangkan untuk diterima?

“Saya pikir ini peluang bagus,  apalagi belum ada Mie Aceh yang diwaralabakan. Saya mencoba belajar kepada seorang konsultan bisnis bagaimana mewaralabakan sebuah usaha,” ujarnya.

 Setelah paham, awal tahun 2010 Ratna mulai menawarkan kerjasama pada masyarakat luas memasarkan Mie Aceh Seulawah dengan pola waralaba. Ada tiga tipe kerjasama yang ditawarkan Ratna yakni tipe foodcourd, kedai dan resto. Investasi yang ditawarkan mulai Rp65 juta untuk tipe foodcourt, Rp 100 juta untuk tipe kedai dan Rp 200 juta untuk tipe resto. Investasi tersebut ia tawarkan di luar lokasi dan tempat. Untuk lokasi Ratna menganjurkan untuk membuka di daerah yang ramai dikunjungi orang seperti di mall, perkantoran atau di pinggir jalan raya.

Selain investasi dalam bentuk dana, dan tempat usaha, calon mitra juga harus  menyediakan tenaga kerja minimal 3 sampai 13 orang tergantung tipe yang dipilih. Nantinya tenaga kerja ini juga akan memperoleh pelatihan selama dua minggu hingga satu bulan.

 “Untuk juru masak, kami menyediakan juru masak khusus agar citarasanya sama,” ujarnya.

Selain itu, mitra Mie Aceh Seulawah, setiap bulannya juga akan dikenakan royalty fee sebesar 5 persen dari omzet kotor.  

Ratna memastikan jika omzet mitra mencapai Rp 1 juta untuk tipe foodcourt, Rp 1,5 juta untuk tipe kedai dan Rp 3 juta untuk tipe resto setiap harinya maka dalam waktu 11 bulan, maka usahanya akan kembali balik modal.

“Saya ingin membuka  50 cabang lagi, dan ingin memiliki resto Mie Aceh di berbagai daerah di Indonesia,” paparnya penuh harap.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari