Tanggal Hari Ini : 23 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Elly Susilawati Peduli Tukang Sol
Kamis, 03 Mei 2012 14:16 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Ketika memulai usaha, tahun 2000 lalu, Elly Susilawati hanya memiliki modal  Rp1juta dan dua orang tukang sol sepatu keliling yang telah di PHK oleh sebuah perusahaan sepatu home industri di Kawasan Jakarta Selatan sebagai karyawannya. Kepeduliannya untuk memberdayakan dan memberikan peluang kerja terhadap tukang sol jalanan agar dapat bekerja seperti sedia kala membuatnya ingin membuat bisnis yang dapat memberdayakan mereka. Ia menyukai dunia sepatu, dan iapun mencoba bisnis produk sepatu.

Ada Peluang

Salah satu motivasi yang mendorong Elly membuat produk sepatu, yang kemudian diberi nama brand  Ethree adalah adanya peluang yang cukup besar bagi terpenuhinya sepatu berkualitas bagi para pemilik kaki asimetris, yang sering disebut sebagai pemilik kaki bermasalah. Kaki bermasalah sebenarnya hanya istilah bagi bentuk kaki yang normal tetapi pemakainya kerap tidak nyaman jika menggunakan sepatu buatan pabrik (pabrikan) yang ada di pasaran.

Para pemilik kaki bermasalah tersebut jika menggunakan sepatu yang ada di pasaran dengan ukuran 40 terlalu besar, sedangkan memilih ukuran 39 terlalu kecil/sempit.  Biasanya para pemilik kaki bermasalah ini agar nyaman bersepatu biasanya menggunakan sepatu yang harus dipesan terlebih dahulu. Mereka memesan secara khusus sepatu yang diinginkan, tetapi sedikit sekali produsen sepatu handmade di Indonesia yang memahami pembuatan sepatu dengan kualitas dan standar disain yang baik.

Melihat peluang yang besar tersebut, Elly  mencoba membuat produk sepatu handmade dari bahan kulit asli (kulit ular, buaya maupun kuli sapi), serta mendisain dengan disain terkini dan uptodate. Rancangan disain sepatu handmade kemudian dibuat secara khusus sesuai bentuk kaki para pemilik kaki dan diproduksi secara manual/handmade oleh para tenaga kerja pembuat sepatu profesional yang telah berpengalaman bekerja di industri sepatu handmade sejak lama.

Kunci terpenting produk sepatu yang akan dibuat adalah disain yang lebih baik daripada sepatu yang ada di pasaran, serta bentuk dan ukuran yang telah disesuaikan dengan anatomi kaki para pemesan/pemakai, berdasarkan anatomi kaki dari para pemiliknya.

Berdasarkan anatomi kaki bermasalah ada pemilik kaki yang memiliki bentuk punuk kaki lebih tinggi dari bentuk normal, memiliki telapak kaki yang datar dan melebar atau tidak memiliki cekungan, atau bahkan ada bentuk kaki yang bentuknya lebih panjang karena memiliki jari yang lebih panjang dari ukuran normal, serta bentuk-bentuk asimetris lainnya.Kunci penting lainnya adalah penggunaan  bahan baku yang berkualitas, serta kontrol produksi secara maksimal sehingga produk yang dihasilkan memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada pelanggan.

 

Serba Terbatas

Sejak didirikan tahun 2000 lalu usaha yang didirikan Elly berdiri nyaris dengan kekuatan dan kemampuan yang sangat terbatas. Modal terbatas, tenaga kerja terbatas, ruangan yang digunakan juga terbatas.

Modal sebesar Rp1juta yang dimiliki, habis untuk membeli bahan baku yang digunakan. Ruangan kerja menggunakan sebagaian ruangan dapur, serta tenaga kerja hanya dengan mengajak para tukang sol sepatu keliling yang pernah bekerja di pabrik sepatu, namun di PHK karena usahanya gulung tikar. Semula Elly memasarkan produk sepatu yang dibuatnya melalui pemasaran dari mulut ke mulut, dan teman-teman di kantor. Saat itu, Elly masih bekerja di perusahaan konsultan kehumasan, yang memungkinkan ia bertemu dengan banyak orang.

Dari tahun ke tahun perkembangan  usahanya cukup berkembang sangat menggembirakan. Produknya  mulai dikenal oleh masyarakat terutama oleh kalangan masyarakat kalangan menengah atas sehingga ia mulai memikirkan merek yang tepat agar pelanggannya mudah menyebut produknya dengan baik. Saat itulah ia mulai memantapkan membuat brand Ethree.

Dengan brand yang tepat, produk Elly sudah mulai dikenal oleh masyarakat kalangan menengah atas. Kalangan masyarakat menengah atas ini memiliki ciri sadar terhadap kualitas, disain serta kenyamanan, dan mau membayar mahal produk yang dirasakan memberikan kenyamanan pada kakinya.

Perkembangan usahanya kian maju, jumlahnya dari hari ke hari juga kian bertambah, dari semula hanya ratusan pasang sepatu (500 – 700 pasang) per bulan menjadi ribuan pasang sepatu per bulan, omzetpun kian terkerek hingga mencapai Rp 650juta per tahun.

Karena jumlah pemesan yang terus meningkat, maka tenaga kerja yang dilibatkan juga semakin banyak. Mayoritas mereka yang bekerja adalah para mantan tukang sepatu berpendidikan formal rendah, tetapi memiliki pengalaman yang cukup lama di bidang produksi  sepatu handmade.

 

Tantangan Mulai Datang

Seiring dengan semakin berkembangnya usaha, Elly mulai melihat ada beberapa kendala yang harus dituntaskan,  salah satu kendala  yang dihadapi adalah pada modal, peralatan yang digunakan, manajemen, serta meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia yang masih sangat terbatas.

Meningkatnya jumlah permintaan pemesanan sepatu handmade membutuhkan bahan baku yang harus dibeli secara tunai dalam jumlah cukup sebagai stok. Pembelian bahan baku tersebut membutuhkan modal dimuka yang harus tersedia,  sementara ketersediaan modal dimuka sangat minim jumlahnya. Sedangkan peralatan yang semula digunakan hanya peralatan sederhana (peralatan sol sepatu) kini terus berkembang dan bertambah jumlahnya seiring dengan kebutuhan industri sepatu handmade. 

Manajemen dan pengelolaan usaha yang semula ia lakukan sendiri juga terus berkembang karena mulai diperlukan tenaga khusus untuk mendatangi pelanggan dan melakukan pengukuran kaki pelanggan agar dapat diproduksi sepatu  sesuai keinginan pelanggan, ia juga mulai memerlukan tenaga pembukuan/ keuangan dan customer service, serta manajer produksi. Semakin banyak jumlah tenaga kerja yang diperlukan.“Semula semuanya saya lakukan sendiri, namun dalam kenyataannya banyak kegiatan yang belum dapat kami lakukan karena keterbatasan-keterbatasan saya,” ujar Elly.

Dalam mengelola usaha home industri yang memproduksi sepatu handmade ini, salah satu tantangan yang dihadapi adalah memberikan dan menyediakan produk sepatu handmade yang sesuai dan diinginkan oleh pelanggan. Tantangan ini sangat besar karena jika pemesanan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau tidak nyaman digunakan, maka sepatu akan dikembalikan lagi oleh pemesan. Karena itu sejak awal proses produksi, dari sejak pengukuran dan pencatatan anatomi kaki hingga produksi maka perhatian dilakukan secara ekstra hati-hati.

Para pekerja juga harus memperhatikan catatan-catanan yang telah dibuat pada saat pengukuran kaki pelanggan agar sepatu yang diproduksi sesuai yang diinginkan. Jika tidak sesuai risiko yang harus ditanggung oleh kami adalah pemesanan tidak dibayar oleh pelanggan. Karena itu para pekerja juga harus diberi pengetahuan dan pemahaman yang sangat tinggi terhadap produk yang dibuat dari sejak awal pengukuran hingga produk diterima oleh pelanggan.

 

Pengorbanan

Sejak awal memulai usaha, yang semula menganggap bahwa usaha yang dikerjakan ini hanya sebagai sampingan, namun dalam kenyataannya usaha ini memerlukan perhatian dan dukungan yang sangat tinggi, karena sudah melibatkan cukup banyak modal, tenaga kerja, serta nasib dari banyak orang yang terlibat di dalamnya.

“Jika kami tidak serius menjalankan bisnis ini, maka bisa saja usaha yang kami rintis mengalami nasib yang sama dengan usaha home industri made shoes lainnya, karena itu saya memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai karyawan di sebuah perusahaan jasa kehumasan dan serius total mengelola usaha made shoes Ethree ini,” cetusnya.

Dalam mengelola usaha produksi handmade shoes ini tantangan yang ia hadapi adalah soal waktu, dimana proses produksi dari pengukuran kaki pelanggan hingga produksi sepatu membutuhkan waktu yang cukup lama karena semua dilakukan secara manual. Pada saat pengukuran kaki banyak pelanggan yang memintanya untuk datang ke rumah sehingga hal ini memerlukan waktu yang cukup untuk bisa datang kepada pelanggan.

“ Banyak pelanggan yang ingin mendapatkan sepatunya dengan cepat, dalam hal seperti ini kami dan team produksi harus bekerja ektra keras hingga lembur untuk menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu,” ujar Elly.Selain itu karena produksi sepatu dilakukan melalui pemesanan maka ada beberapa biaya yang harus diperhitungkan dalam biaya produksi antara lain, biaya transport, biaya pengiriman, dan lain-lain.

Sebagai single parent dan bekerja diantara para karyawan yang sebagian besar adalah para lelaki, terlebih sering lembur, dan harus mendatangi pelanggan untuk mengukur kaki pelanggan, hal ini memerlukan mobilitas yang sangat tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Elly karena tidak semua orang memandang kegiatan ini cukup diapresiasi dengan baik.

Ada Juga Dukungan

Dalam perjalanan mengelola usaha, Elly cukup banyak melakukan penelitian dan pengembangan agar usaha produk sepatu yang dihasilkan dapat diterima pelanggan dengan baik. Beberapa penelitian dan pengembangan yang dilakukan antara lain, uji  Mutu Produk Ethree yang dilakukan oleh Departemen Perindustrian, Direktorat Industri Sandang, yang bekerjasama dengan Indonesia Footwear Service Centre (IFSC) Tanggulangin, Sidoarjo pada tanggal 24 Juli 2006.  Berdasarkan hasil uji diketahui bahwa produk sepatu Ethree memiliki kualitas mutu dan disain dalam klasifikasi A.

“Hasil uji tersebut sanggat membanggakan kami, dan   menambah keyakinan kami bahwa produk yang kami hasilkan benar-benar sesuai yang kami harapkan sehingga memberikan kenyamanan kepada pelanggan,” ujar Elly.

Selain itu Elly juga belajar pewarnaan dan pengolahan kulit yang baik dan benar, berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh Dinas Perindustrian Jakarta, penggunaan  packaging yang baik, pembuatan media promosi yang baik, dan lain-lain.

Beberapa dukungan juga diberikan oleh berbagai instansi dan dinas, diantaranya dari  Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta, berupa space/kios dengan sewa gratis untuk mendisplay produk-produk di beberapa mall dan pusat perbelanjaan di Jakarta, serta dukungan pembuatan disain dan produksi flyer dari Sucofindo.

Tetap ada Tantangan

Usaha Elly berada di Jl. Siaga II No42 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.  Kawasan Pejaten Barat merupakan kawasan padat penduduk,   semi urban metropolis yang banyak dihuni oleh masyarakat pendatang. Sebagian masyarakat di lingkungan usahanya memiliki tingkat kesejahteraan  yang cukup tinggi ditandai dengan keberadaan rumah-rumah yang besar dan luas. Namun perhatian mereka kepada orang-orang yang tidak beruntung, para tukang sol sepatu yang kehilangan pekerjaan, tukang ojek yang semakin banyak, belum tersentuh perhatiannya oleh masyarakat sekitar, sehingga diharapkan dengan keberadaan usahanya cukup dapat membantu memberikan lapangan pekerjaan formal yang bermanfaat bagi mereka.

Salah satu yang mendorong Elly untuk mendirikan usaha handmade shoes  Ethree adalah karena keinginannya untuk memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung di sekitar tempat tinggalnya sehingga bermanfaat bagi diri dan keluarganya, dan juga masyarakat sekitarnya.

“Meskipun telah berjalan sesuai yang kami harapkan, masalah yang kami hadapi dalam pembinaan industri kecil ini adalah kemauan dan kemampuan serta entrepreneurship skill  yang ingin terus kami tingkatkan.  Tantangan kami adalah menyediakan produk sepatu handmade dengan harga terjangkau diantara keberadaan produk-produk sepatu pabrikan  yang murah harganya,” cetus Elly.

Menurut Elly, tantangan lainnya adalah membuat standar kerja dan sistem kerja yang baku dan baik /Standart Operating Procedure (SOP)  sehingga pembuatan sepatu handmade dapat berajalan sesuai skedul dan mutu yang telah ditetapkan.  Adanya kendala regenerasi dari para karyawan yang bekerja sebagai tukang sepatu karena saat ini sangat susah mencari anak-anak muda yang mau bekerja sebagai pembuat sepatu dengan memberikan kesempatan magang kepada para pemuda yang berminat juga merupakan langkah untuk mencari jalan keluar yang ada.  

Modal, menurut Elly, juga tetap menjadi kendala karena bisnis dalam industri sepatu handmade adalah padat karya, dan juga padat modal. Namun dukungan dari perbankan dalam bentuk dana pinjaman CSR dari Bank BNI serta pelatihan manajemen, serta bentuk pelatihan lainnya seperti dari Sucofindo,  modal cepat dari Pegadaian juga sangat membantunya dalam mengembangkan usaha.

Pengabdian dan Sinergi

Dengan menjadi mitra binaan perusahaan seperti binaan Bank BNI dan Sucofindo Elly memperoleh banyak manfaat, diantaranya kesempatan untuk memperoleh akses modal dengan bunga rendah, kesempatan mengikuti pameran produk dengan fasilitas yang disediakan oleh perusahaan yang menjadi mitra, serta berbagai pelatihan manajemen lainnya, seperti pelatihan pembukuan keuangan, manajemen produksi, dan lain-lain.

Berbagai aktifitas yang ia lakukan ternyata cukup banyak memperoleh perhatian, diantaranya perhatian dari berbagai media cetak, TV hingga radio yang memuat profil dan usahanya. Elly juga mendapatkan berbagai penghargaan diantaranya Penghargaan dari Suku Dinas Perindustrian Jakarta, Penghargaan Asean Woman Executive Golden Award tahun 2006, penghargaan ‘Indonesia Small Medium Entrepreneur Award’ (ISMBEA)  tahun 2007 dari Kemetrian Koperasi dan UKM RI,  serta menjadi finalis Dji Sam Soe Award tahun 2008. 

Kiprah kepeloporan Elly terus berlanjut, dengan atau tanpa penghargaan langkahnya akan kian bersemangat membantu masyarakat di sekitarnya dengan memberikan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraannya.

              

 

 

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari