Tanggal Hari Ini : 01 Aug 2014 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Bisnis Makanan Jepang
Rabu, 02 Mei 2012 15:32 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Berdagang makanan merupakan bisnis yang prospektif dan dapat dikembangkan dengan system kemitraan. Apalagi bisnis makanan yang dijalankan selain enak di lidah, memiliki cirri khas sendiri. Seperti yang dilakukan Tony, menjual makanan Jepang cepat saji dengan merek Oto Bento.

” Saat  saya berlibur ke Jepang, saya melihat ada gerai makanan yang begitu diminati oleh masyarakat,  dan selalu habis terjual. Padahal menu-menunya sangat sederhana dan praktis,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti ini mengawali ceritanya kepada Majalah Wirausaha dan Keuangan.

 Yang dengan apa yang dilihatnya, Tony mencoba merancang bisnis serupa di Jakarta. Meski sudah banyak restoran Jepang di Jakarta tetapi harganya relatif cukup mahal bagi kalangan tertentu. Soal pilihan bisnis makanan Jepang ini, alasannya sederhana, bahan baku mudah didapat, dan pengolahan menu-menu Jepang relative mudah dilakukan.

 

 Garap Pasar Remaja

Sesuai dengan menu yang dijual,  target market yang dibidik Oto Bento adalah anak-anak hingga remaja. Segmen ini berdasarkan analisa memiliki keterbatasan uang, namun merupakan segmen yang suka berbelanja dan mencoba makanan dengan menu-menu baru yang ia kenal. Harga seporsi menu Oto Bento berkisar Rp5.000 hingga Rp 6.000. Cukup terjangkau bukan?Ada 12 menu yang ia tawarkan, antara lain crab rool, chiken yakiniku, beef yakiniku, chiken teriyaki, egg chiken roll, chiken katsu, tori no teba dan masih banyak lagi. Agar cepat dikenali oleh remaja, maka pemilihan tempat usaha ia cari lokasi yang banyak ditongrongi  oleh anak muda.

Pertama ia membuka Oto Bento berupa warung tenda di Jalan Pajajaran, Bogor. Strategi pemasaran yang mereka lakukan adalah menyebarkan brosur kepada anak-anak muda sepanjang jalan tersebut, serta membuat paket-paket murah sesuai kantong anak muda.Strategi itu menurut anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Sun Hok dan Oey Lienio ini ternyata membawa hasil baik. Semakin hari warungnya semakin ramai pengunjung. Bahkan semakin banyak pelanggan yang bukan hanya remaja, tetapi juga orangtua dan anak-anak.

Sukses satu outlet, Tony kemudian membuka outlet-outlet di lokasi lainnya. Dengan cara yang sama, Oto Bento dikembangkan ke berbagai lokasi lain, dan tenyata hasilnya cukup berkembang dengan baik. Melihat outletnya ramai, banyak pelanggan yang ingin bekerjasama menjadi mitra. Beberapa tahun ia belum bisa menerimanya, karena masih banyak yang harus dibenahi, baik mekanisme maupun system kerjanya.Tahun 2006,  Tony baru membuka kerjasama dengan system kemitraan. Ada beberapa paket yang ditawarkan Tony, yakni paket Rp 9,8 juta, Rp 18 juta, Rp 35 juta, Rp 50 Juta, Rp 120 juta dan Rp 170 juta.

“Untuk paket di bawah Rp 100 juta saya tawarkan outlet both sedangkan paket di atas Rp 100 juta outletnya sudah berbentuk restoran. Jadi mitra bisa memilih sesuai dengan investasi yang diinginkan,” ujar suami dari Siaw Ling ini.Tony mensyaratkan beberapa hal yang harus dimiliki oleh para mitra. Pertama, mitra harus memiliki entrepreneurship dan berjiwa bisnis, memilih dan mencari lokasi yang strategis, terutama lokasi yang berdekatan dengan sekolah, sarana olah raga atau mall, menyediakan space 3x3 meter persegi, menyiapkan minimal 2 orang karyawan untuk memperoleh training pelaksanaan dan pengelolaan outlet.

Karena kerjasama masih bersifat kemitraan, Tony tidak memungut royalty fee maupun franchise fee pada mitranya. Mitra cukup membeli bahan baku yang ditentukan, sedangkan sayuran mitra bisa membeli sendiri.Saat ini Oto Bento sudah memiliki 100 cabang yang tersebar hampir di kota-kota besar Indonesia. Target Tony dapat membuka outlet Oto Bento lebih banyak di kota-kota Luar Jawa. Menurut Tony bisnis makanan Jepang, seperti yang dituturkan di depan cukup prospektif. Jika mitra mampu menjual 30 porsi setiap harinya, ia memastikan dalam waktu 3 hingga 18 bulanmodal yang diinvestasikan cepat kembali.

Tony berkeinginan, suatu saat mampu mengembangkan Oto Bento ke beberapa negara lain seperti ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Menurutnya prospek bisnis kuliner di negara-negara tersebut  besar pelauangnya.“Di negara-negara tersebut setiap restoran yang menyediakan nasi, pasti laris. Saya ingin mengembangkan Oto Bento di sana,” cetusnya.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari